Senin, 25 Juli 2011

Bicara Tentang Anak-anak Jaman Sekarang

Dua hari yang lalu, saya menyaksikan sebuah acara penghargaan yang ditayangkan di sebuah stasiun televisi swasta. Sama seperti ajang-ajang penghargaan lainnya yang menampilkan banyak artis yang akan dipilih sebagai yang 'ter', pada acara penghargaan ini pun begitu. Hanya saja, disini tidak hanya menghadirkan nominasi berupa artis 'ter', atau penyanyi 'ter', namun juga ada nominasi untuk atlet dan program film kartun favorit. Ya, Indonesia Kids Choice Awards 2011. Sebuah ajang penghargaan dimana para pemenangnya dipilih oleh anak-anak Indonesia.

Hanya saja, yang saya sayangkan dari acara ini yaitu para nominasi yang dipilih oleh anak-anak Indonesia disini bukan hanya artis-artis remaja tetapi juga artis-artis dewasa. Saya kira, ini acara anak-anak dan yang mereka pilihpun haruslah anak-anak juga. Tapi ternyata saya salah, yang membedakan dengan penghargaan-penghargaan lain hanyalah pemilihnya, dan bukan nomnasinya yang harusnya bertemakan anak-anak juga. Nominator-nominator kebanyakan adalah para penyanyi yang membawakan lagu-lagu dewasa yang bertemakan cinta, para pesinetron yang berakting tentang kejahatan-kebaikan yang hiperbolis, bahkan tidak ada unsur edukasinya sama sekali.
Mungkin menurut saya acara tersebut lebih tepat kalau bernama 'teens choice awards', ketimbang kids choice award, tentu saja dengan mempertimbangkan beberapa aspek tertentu yang disesuaikan dengan dunia remaja. Karena dalam acara ini, yang bertemakan anak-anak sepertinya hanya nominasi untuk program film katun favorit, seperti doraemon, spongebob, upin&ipin, dan naruto.
Ini membuat saya berfikir, zaman memang telah berubah. Semakin berubah. Ya, mungkin telah berubah sejak zaman saya SD. Hanya saja baru sekarang saya menyadarinya. Dulu waktu zaman SD saya tahu ada teman saya ada yang berpacaran. Saya belum ngeh, yang seperti apa kata pacaran itu. Sampai-sampai saya pernah membuat masalah dengan tidak sengaja, atau mungkin lebih tepatnya engga ngeh kalo yang saya lakukan adalah namanya mengadudomba sang teman dengan sang pacar. Ahahahaha, selalu keinget terus deh soal yang satu ini. Ini masalah. Saya langsung diinterogasi beberapa hari setelah itu. Dan sekarang saya hanya tertawa kalau mengingat kejadian itu. Konyol sekali, saya langsung memberitahu apa yang saya dengar. Hahahaha... sampe sekarang saya masih inget deh kejadian itu, dan sebenernya saya ingin minta maaf sama mereka. tapi itu kan kejadian hampir sembilan tahun yang lalu, udah ga ngaruh. Dan... loh, ko saya malah cerita soal saya sih. Haduh, mohon maaf sekali para pembaca!! Kita kembali ke pembahasan awal.

Saya prihatin. anak-anak zaman sekarang keliatannya telah dewasa sebelum waktunya. Itu semua karena didikan dan lingkungan mereka yang bersinergi mendukung perubahan zaman saya rasa. Perkembangan teknologi yang pesat, yang sulit diimbangi oleh sumberdaya manusia dan pengendalian dari berbagai pihak. Tentu aja ini sangat sulit. Meningat anak sekarang cerdas-cerdas. Dan yang namanya anak-anak, pasti penasaran dengan hal-hal baru yang ditemuinya. Saya sendiri, tau chatting mirc sejak SD, dari teman saya, entahlah dia tau darimana. Manfaatnya apa? Waktu itu saya senang bukan kepalang karena bisa berkomunikasi dengan oranglain tanpa bertemu dengan orangnya langsung. Dan saya, bisa dengan bebas berbohong menyembunyikan identitas asli saya. Sekarang, anak-anaknya lebih canggih lagi. Lewat hape, mereka bisa ber sms-an ria dengan orang yang belum mereka kenal, bahkan sampai akhirnya ketemuan. Dan betapa bahayanya ini, anak SMP udah banyak yang begini. Dan anak SD pun sama, ternyata dari obrolan mereka telah banyak yang terlihat seperti anak SMA aja. Saya lihat facebook adik saya yang masih berusia 11 tahun, teman-temannya membicarakan soal pacaran, bahkan ciuman. Astaga... anak SD 11 tahun. Hm... ironis bukan?

Pendidikan sekarang bukan hanya membuat mereka lebih cerdas, tetapi juga lebih dewasa. Menurut saya ini terlalu dini. Ya... mungkin ada yang berpendapat kalau ini biasa, dan bukan hal besar. Tapi menurut saya ini penting untuk dibicarakan diruang publik. Untuk apa? Untuk para pendidik, para orangtua, dan orang-orang yang peduli dengan anak-anak. Ahh.. saya berbicara seperti orangtua yang sedang menasehati anak-anaknya aja. Mohon maaf untuk yang merasa dinasehati. Ga ada maksud begitu, saya hanya ingin menyampaikan apa yang ingin saya samapikan aja. Saya bukan orang tua, belum menikah, apalagi punya anak. Saya berbicara disini karena saya peduli dengan anak-anak Indonesia, dan untuk adik saya, sebagai seorang kakak. Mari kita sama-sama saling manjaga, saling membatasi agar anak-anak Indonesia tdak dewasa sebelum waktunya!! biarkan mereka bermain dan belajar sesuai dengan usianya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar