Sabtu, 08 September 2012

Perbincangan Singkat Politik dengan Abang Sopir Angkot

Tadi pagi, dalam perjalanan saya menuju kampus dengan menggunakan angkot jurusan panghegar - dipati ukur, saya terlibat dalam sebuah perbincangan dengan  supir angkot. Di awal perbincangan, si sopir angkot memulai dengan celoteh mengenai kemacetan di Kota Bandung yang kian parah saja, ketika itu kami sedang melewati sekitaran Jalan Riau, biasalah, banyak tempat makan kan sepanjang jalan ini, dan apalagi hari ini weekend, yang pastinya bikin macet jalanan aja, soalnya lahan parkir di daerah sini kan kurang memadai, jadinya badan jalan yang sempit ini harus berbagi dengan lahan parkir. Padahal yang untung kan cafe-cafe nya. Buat pemerintah, kayaknya sih kaga ada, kecuali PeEr buat ngatasin permasalahan ini.

Perbincangan berlanjut ke soal politik, dinama-mana yang namanya udah berpolitik tuh ga ada istilah bener ato salah, ga ada. Jadi inget kata salah satu dosen Ilmu Sosial dan Budaya saya yang bilang kalo politik tuh bukan kayak dua sisi mata uang lain, politik itu diibaratkan kayak bola. Bisa ditendang sana, tendang sini, dan kita (rakyat) ga tau, sisi mana yang berada pada pihak kita. Bukan soal hitam dan putih lagi, tapi abu-abu, atau mungkin mejikuhibiniu. Yah... begitulah politik.

Saya dapet pesen nih dari si abang spopir angkot, kalau kita sebagai generasi muda, janganlah ngikutin jejak-jejak kelabu itu, yaaah... semuanya sih emang soal teori, semua orang yang ada di lembaga terhormat itu juga tau yang bener dan yang salah (mungkin?) tapi... hati nurani, ga semua orang disana pake hati nurani, atau bahkan yang pake hati nurani malah minoritas disana. Makannya, kalau memimpin tuh harus pake hati, dan harus hati-hati..

Dari perbincangan yang lumayan singkat, mungkin ada sekitar 15 menitan, saya kagum dengan pemikiran si abang sopir angkot ini, mereka pun bisa berpikiran kritis, masa kita engga?

1 komentar:

  1. mau komentar tentang ini "hati nurani, ga semua orang disana pake hati nurani, atau bahkan yang pake hati nurani malah minoritas disana. Makannya, kalau memimpin tuh harus pake hati, dan harus hati-hati.."
    neni juga punya pengalaman bicara ttg politik namun bedanya berbicara dengan seorang pegawai bank di jakarta. benang merahnya sih ngbahas tentang "hati nurani, ga semua orang disana pake hati nurani, atau bahkan yang pake hati nurani malah minoritas disana. Makannya, kalau memimpin tuh harus pake hati, dan harus hati-hati.." kita yang sebagai rakyat emang gatau yang sebenarnya dunia mereka seperti apa, yang kita lakukan hanya komentar dulu dari satu sudut pandang. padahal kata temen bicara neni tadi, sebenernya masih ada "mereka" yang masih punya hati nurani dan ingin menjalankan tugasnya dengan hati - hati, namun dunia kerja mereka ternyata lebih kejam, tak seindah fasilitas yang mereka dapatkan, "mereka" dipaksa, diancam dengan yang lebih "kuat", dan "mereka" seolah tak punya pilihan lain selain menuruti ancaman, padahal mereka masih punya pilihan yaitu untuk mengundurkan diri dari "dunia" tsb, namun mereka juga masih dan harus memikirkan bagaimana keluarganya bisa "makan".. nah sekarang, bagaimana sikap kita?.. masih kah kita berpikir dengan satu sudut pandang?..

    BalasHapus