Rabu, 12 September 2012

Water Flow

Air yang mengalir beberapa waktu lalu itu telah terseret kedalam putaran waktu. Sebelumnya, ia telah beraba-aba akan menyiapkan arus terderasnya. Namun apa daya, aba-aba itu hanyalah sebuah aba-aba, hanya sampai saat bersedia... siap... namun tidak sampai mulai. Arusnya tidak sederas yang ia bayangkan. Ia berjalan dengan sangat lambat. Tak apalah, ia tak mengalir deras, ia akan berusaha mengalir secara perlahan, tapi pasti. Ia ingin menjadi air yang didambakan orang karena ia bermanfaat pada waktu yang tepat, asalkan jangan sampai terlambat. Tapi sepertinya itu masih menjadi mimpi belaka. Pada kenyataannya, ia tak selalu berada pada tempat yang tepat, tak selalu berada pada aliran yang semestinya.

Mungkin jalannya memang tak selalu lurus, tetapi berliku, penuh batu, dan bahkan yang seringkali membuatnya bingung adalah ketika ia menemui dua jalur atau ketika ia menemui persimpangan. Ah, seperti di jalan raya saja! Ia bergumam. Kalaupun begitu, ia tahu, ia harus dan akan tetap berjalan. Walaupun merelakan sebagian dirinya melintasi jalur yang berbeda, membagi dua. Tak apalah... yang penting ia akan bermanfaat bagi yang dilaluinya. Coba banyangkan kalau dia berusaha egois, mengambil satu jalur saja! Bagaimana nasib aliran yang tak teraliri itu? Seandainya tidak ada airan lain yang akan melaluinya. Kering. Pastilah mereka akan kering. Yang mendamba hanya akan tetap mendamba.

Beberapa kali ia mengulur waktu. Namun bukan agar mereka menderita, melainkan supaya ia semakin dirindukan. Begitulah taktiknya. Ia pasti akan datang bagi aliran yang ia tahu takan dialiri aliran lain sebagai kejutan. Agar kedatangannya sedikit mengharukan. Tetapi jika ia tahu bahwa akan ada aliran lain yang datang, ia akan senang. Berarti ia tidak perlu membelah diri. Tak perlu ia membagi-bagi dirinya. Ia akan sampai di tujuan sebagai dirinya yang utuh. Karena ia pun tahu bahwa setiap air akan memiliki alirannya sendiri. Jadi tidak perlu takut tak memiliki tempat…

Artikel ini pernah saya publikasikan di
http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2010/09/15/water-flow/
tanggal 15 September 2010

1 komentar:

  1. weiiw keren bgt niih katakatanya emang berat tp "ngena banget dahh"..
    semua jempol buat hyena :p wkwkwkwk
    yapp pasti punya tempat sendiri, dan itu tergantung ngarahinnya mau kmn, kalau let its flow ajjah seolah kaya yang pasrah mengikuti takdirnya, mendingan siapkan niat dan tentukan tujuan ga perlu takut ntr dijalan ketemu apah.. yg pasti berjuang, karena hidup adalah perjuangan :)

    BalasHapus