Minggu, 20 Januari 2013

SRC-2013 Bulan Januari : Berfilosofi Lewat Kumpulan Cerita dan Prosa

Judul Buku : Filosofi Kopi, Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade (Cetakan II, 2010)
Pengarang : Dee
Penerbit : Gagasmedia
Tahun Terbit : 2006
Tebal : 134 Halaman


Buku ini merupakan 18 kumpulan cerita pendek dan prosa karya Dee, selama tahun 1995-2005, dua diantaranya pernah dimuat di media cetak, sebagian besar lainnya belum di publikasikan, dan telah melalui proses nenyuntingan.

Cerita yang paling saya suka, yaitu Filosofi Kopi, tentang dua orang pemuda yang memiliki bisnis kedai kopi, salah seorang diantaranya memang sangat terobsesi dengan kopi, hingga ia rela berkeliling dunia demi mengetahui racikan-racikan kopi terbaik di seluruh dunia. Hingga ia terobsesi untuk menciptakan racikan kopi dengan rasa yang paling sempurna. Hal yang dapat saya petik dalam cerita ini yaitu "Sesempurna apapun kopi yang kamu buat, kopi tetaplah kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan."

Cerpen lainnya yang menarik perhatian saya, yaitu Rico de Coro, bercerita tentang seekor kecoa yang jatuh cinta dengan manusia. Dalam Rico de Coro, kita diajak dee untuk melihat dalam sudut pandang seorang kecoa, yang ia deskripsikan seperti layaknya manusia. Pengorbanan Rico de Coro yang rela mati demi seseorang yang dikasihnya.

Surat yang tak Pernah Sampai, bercerita tentang surat-surat cinta yang ingin dikirim oleh pengagum rahasia. Hingga waktu mengubah semuanya hanya menjadi surat-surat yang tak berarti lagi karena memang surat-surat itu tak pernah dikirim.

Di tengah gurun yang terjebak, jadilah salju yang abadi. Embun pagi tak akan kalahkan dinginmu, angin malam akan menggigil ketika melewatimu, oase akan jengah, dan kaktus terperangah. Semua butir pasir akan tahu jika kau pergi, atau sekedar bergerak dua inci. -- Salju Gurun

Setiap jenjang memiliki dunia sendiri, yang selalu dilupakan ketika umur bertambah tinggi. Tak bisa kembali ke kacamata yang sama bukan berarti kita lebih mengerti dari yang semula. Rambut putih tak menjadikan kita manusia yang segala tahu. -- Jembatan Jaman

Dalam raga ada hati, dan dalam hati, ada satu ruang tak bernama. Di tanganmu tergenggam kunci pintunya. -- Kunci Hati

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi? -- Spasi

Mimpi tak berlengan, tetapi akan selalu ada jika engkau menginginkan. Ketika badai datang atau api menelan bangunanmu, bati-batu itu tak akan hancur atau jadi abu. Mereka hanya menunggu uluranmu, kekuatan hatimu, dan satu lagi rancangan cetak biru. -- Cetak Biru.

Larilah dalam kebebasan kawanan kuda liar. Hanya dengan Begitu, kita mampu memperbudak waktu. Melambungkan mutu dalam hidup yang cuma satu. -- Kuda Liar

Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan. -- Mencari Herman

Cerpen dan prosa lainnya, diantaranya Lara Lana, Sepotong Kue Kuning, Buddha Bar, Selagi Kau Lelap, Sikat Gigi, Diam, Cuaca, dan Lilin Merah. Sama dengan judul bukunya, keseluruhan cerpen dan prosa dalam buku ini rasanya, masing-masing memiliki filosofinya tersendiri. Karenanya, pas sekali bila cerpen Filosofi Kopi dijadikan sebagai Masterpiece cerita pembuka selakigus judul dalam buku ini.

Karya Dee, selalu membuat saya jatuh hati, dengan gaya bahasanya, dengan ide-idenya, dengan alur ceritanya. Yang bukan hanya menghibur, tapi juga dapat memberikan informasi. Penulis yang cerdas menurut saya, walaupun beberapa ceritanya, kadang bahasa atau idenya ga nyampe buat otak saya yang sama sekali ga ngerti soal sastra menyastraan. Tapi sejauh ini saya tetap menikmati dan mengapresiasi karya-karyanya.

Rating 4/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar