Minggu, 24 Februari 2013

SRC-2013 Bulan Februari : Pudarnya Cinta yang Terlambat

"Terkadang kita baru menyadari betapa berartinya seseorang, setelah orang itu pergi meninggalkan kita."

Judul : Pudarnya Pesona Cleopatra
Pengarang : Habiburrahman El-Shirazy
Format : Ebook, 50 halaman


Bercerita tentang seorang pria yang terpaksa mau dijodohkan dengan wanita pilihan ibundanya karena tidak mau dianggap sebagai anak durhaka. Ia bahkan rela mengorbankan perasaannya dengan menikahi wanita yang sama sekali tidak dicintainya. Baginya, kecantikkan perempuan-perempuan Mesir yang bak Ratu Cleopatra adalah segalanya. Walaupun banyak orang yang berkata bahwa istrinya wanita yang cantik dan solehah, dan betapa beruntungnya mereka karena dikatakan pasangan yang ideal, tetap tidak melunturkan kecintaannya pada wanita berparas bak Ratu Cleopatra.
Awalnya ia berusaha menerima pernikahan itu dengan prinsip pepatah Jawa "Witing tresno jalaran soko kulino", yang memiliki arti bahwa cinta akan tumbuh karena terbiasa. Namun rupanya pepatah tersebut tidak berlaku bagi pria tersebut. Sekuat apapun pria tersebut berusaha mencintai istrinya, tetap saja tak bisa, semakin hari ia malah semakin muak pada istrinya. Walaupun hingga istrinya telah mengandung anaknya, darah dagingnya. Karena itu semua dilakukannya semata-mata hanya untuk menghormati keluarganya, sebab ketika ada pertemuan keluarga, beberapa kali mereka ditanyai perihal cucu oleh ibu dan mertuanya. Namun istrinya, tidak pernah mengeluhkan sikap suaminya yang begitu tidak peduli padanya dan pada kandungannya, istrinya dengan setia tetap mengurus dan melayani suaminya dengan sebaik-baiknya.
Sampai suatu ketika kandungannya telah membesar, untuk memudahkan ketika waktunya persalinan tiba, istrinya terpaksa tinggal dengan ibunya untuk sementara waktu karena tempat tinggalnya cukup jauh. Sebelum pergi, istrinya hanya berpesan untuk mencairkan tabungannya untuk persalinannya.
Semenjak istrinya pergi, awalnya ia merasa bebas, tidak terbebani lagi oleh keberadaan istrinya. Namun ternyata ia salah. Selama ini ia terlanjur bergantung pada istrinya. Dan ia mulai menyadari bahwa betapa berartinya keberadaan istrinya itu. Ia pun menyesal dengan segala sikap yang telah ia lakukan kepada istrinya. Betapa ia merasa bukan sebagai seorang suami yang baik. Ia telah gagal menjadi seorang suami. Ia pun ingin membayar segala sikapnya dengan mengunjungi rumah mertuanya. ia mulai menyadarinya ketika ingat pesan istrinya untuk mencairkan tabungannya. Dilihatnya kumpulan surat-surat istrinya, yang ternyata berisi curahan hati istrinya. Selama ini istrinya berusaha memberikan yang terbaik bagi suaminya demi menjadi istri yang diridhoi, tapi ternyata ia menyia-nyiakannya.
Ketika sampai dirumah mertuanya, ternyata istrinya telah tiada, seminggu sebelum kedatangannya. Istrinya mengalami pendarahan hebat, hingga ibu dan kandungannya tidak dapat diselamatkan. Hanya penyesalan yang dapat dirasakannya kini, yang bahkan kata maaf pun tak dapat ia lakukan.
*
Ceritanya cukup sederhana, layaknya sinetron Indonesia. Namun sangat mendalam. Diceritakan dengan bahasa dan alur cepat yang sederhana pula, tapi cukup menyentuh. Membaca novel ini mengingatkan saya pada hal-hal yang selama ini kurang saya perhatikan, yang ternyata tanpa saya sadari begitu penting. Bukan hanya untuk seseorang yang penting bagi kita. Tapi juga binatang peliharaan, atau bahkan barang-barang milik kita sendiri misalnya. Walaupun buku ini kurang dapat dikatakan 'nyastra', tapi overall pesan yang ingin disampaikan penulis sangat dapat saya terima dengan baik.

Rate 3/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar