Senin, 03 Juni 2013

ESQ untuk Calon Wisudawan, Perlukah?


Hari ini, dari pagi jam 9 sampai jam 5 sore, saya ikut acara ESQ yang diadain kampus buat para calon wisudawan. Acara yang seharusnya dimulai jam 8. Mungkin teman-teman juga udah pada tau ya ESQ itu apa? Tapi, buat yang belum tau aja, saya kasih sedikit penjelasan dulu aja ya. Berdasarkan website resminya di http://www.esqway165.com/, ESQ 165 punya slogan yang cukup jelas "your partner in character building". Yap, partner untuk membangun karakter. Sesuai dengan tujuan lembaga tersebut, yaitu membentuk karakter melalui penggabungan 3 potensi manusia yaitu kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Kampus saya bekerjasama dengan ESQ ini untuk membangun karakter calon wisudawan sebelum kami, para calon wisudawan dinyatakan secara resmi sebagai alumni. Duh, tapi bukanm ESQ nya yang mau saya bahas lebih lanjut sih ya. Kerjasama dengan kampus saya ini juga baru pertama kali diadakan untuk wisudawan gelombang II tahun 2013, sebelumnya belum pernah. Jadi, berbicara mengenai tujuan yang telah disebutkan sebelumnya, intinya yang bisa diambil, pihak kampus tidak ingin menelurkan wisudawan yang hanya intelektual, tapi berpotensi 'merugikan', tetapi menelurkan kaum intelektual yang juga taat. Sesuai dengan visi dan misi tempat kampus dimana saya mencarui ilmu. Pertanyaannya disini, perlukah? Tentu, saya berpendapat penting sekali, dan acara yang saya hadiri bagus. Namun, dalam jangka panjang, sepertinya efeknya akan kurang terasa. Training semacam ini dibutuhkan kesinambungan, rutin dilakukan, seperti yang kemarin trainernya sampaikan. Kami diajak mengikuti training lanjutan, untuk memaksimalkan ilmu yang kami dapatkan kemarin. Tapi, sayangnya, saya rasa ga semua orang mau menyempatkan diri untuk hal yang seperti ini. Kebanyakan akan memiliki kesibukan yang dirasa lebih penting, dan apalagi bila ditambah rasa malas. Karena hal yang seperti ini dianggap kurang penting, sehingga kurang menjadi prioritas. Sama halnya seperti belajar. Hanya orang-orang yang terpanggil lah yang biasanya berada di 'jalan yang benar'. Ah saya bicara apaan sih dari tadi :") Intinya menurut saya, seharusnya, pengembangan diri semacam begini, kurang bermanfaat jika hanya sekali ketika kami mau lulus saja, seharusnya training seperti ini secara rutin dilakukan pihak kampus, bila perlu memasukkannya sebagai kurikulum. Karena jika tenaga pendidik (pihak kampus) benar-benar mau mewujudkan visi dan misinya tersebut, hal ini harus dilaksanakan secara rutin. Kalau sekali saja sepertinya kurang memberikan efek yang berarti.

Menurut pandangan saya, kegiatan semacam ini diadakan karena adanya kekhawatiran pihak kampus, dimana sekarang ini, yang menjadi penjahat, bukanlah manusia yang tidak berpendidikan, melainkan kaum intelektual, yang seharusnya mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Misalnya saja kita katakan seorang koruptor. Kejahatan kaum yang berpendidikan, jika kita lihat, akan lebih berbahaya dibandingkan dengan kaum yang kurang terpelajar. Mengapa? Karena kaum yang bisa dikatakan berpendidikan rendah, kebanyakan berperilaku jahat karena adanya kebutuhan akan perut (makan). Sedangkan kaum terpelajar bukan hanya itu, jauh lebih lagi, kebutuhan mereka akan kepuasan dan penghargaan diri yang terlampau tinggi, yang tidak sesuai dengan kemampuan, mengakibatkan penghalalan dengan segala cara demi memuaskan dirinya sendiri.

Karenanya, kalau ada orang yang bilang "Kecerdasan Tanpa Iman, adalah kesia-siaan." -- adialyahya itu benar adanya. Tapi menurut saya, kecerdasan tanpa keimanan itu adalah bahaya besar, karena siapa yang tahu, kalau besok-besok banyak yang menyalahgunakan kecerdasan. Eh, ga usah nunggu besok, dari dulupun sudah ada. Itu karena kurangnya rasa iman.

Berdasarkan materi yang saya dapatkan saat ESQ tadi, banyak sekali ilmu yang saya dapat. Pertama kali acara dimulai, kami diberi selembar kertas yang berisi kolom 'nama kecil', 'kota asal', 'pengalaman lucu', dan 'yang diketahui ttg ESQ'. Jadi, kami diminta mencari teman sebanyak-banyaknya, dan menggali informasi mengenai orang yang baru kita kenal tsb (Kebanyakan sih ahirnya kenalan sama temen sendiri :P). Dan kebanyakan bingung dengan isian 'yang diketahui ttg ESQ'. Kebanyakan dikosongkan. Ada yang isi: pengembangan kepribadian, pengembangan motivasi, sampe yang nangis-nangisan lah. Hahaha.
Dan yang menurut saya paling kocak, yaitu ketika ditanya tentang hakikat kita hidup. Hidup untuk apa? Untuk makan. Makan untuk apa? Agar sehat. Sehat untuk apa? Agar berotot. Whaat??? Jai tujuan lo idup untuk berotot gtu? Wkwkwk.. Ngakak banget deh pas ada yang jawab seperti itu. Saya yakin, orang itu hanya nge-joke kok :D

Hidup itu untuk beribadah. Beribadah itu untuk mengapai ridho Allah SWT. Ridho Allah SWT. kita raih demi mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat. Jadi, kesimpulannya, tujuan hidup itu untuk mencari kebahagiaan. Hanya saja, cara mencapai kebahagiaan setiap orang itu berbeda. Hanya saja, untuk mendapatkan kebahagiaan yang sempurna --menurut ESQ-- ini ada 3 tahap, yaitu dengan menggabungkan 3 kecerdasan sekaligus secara seimbang, antara Spiritual Questions (SQ), kemudian Emotional Questions (EQ), dan terakhir Intelligent Questions (IQ).


"Salah satu yang dapat kita lakukan untuk memulai menggabungkan semua kecerdasan tersebut, yaitu dengan menerapkan personal branding. Kita mengira citra diri kita dibangun melalui rumah, mobil, jam tangan, dll, padahal diri kita adalah sekumpulan tindakan yang lahir dari nilai terdalam (personal values) yang diyakini dan dipegang teguh. Itulah merk kita, itulah harga diri kita yang sebenarnya."
~ Dr. H.C. Ary Ginanjar Agustian

**update: Belakangan saya tahu, kalo ternyata ESQ emang lagi banyak ngadain kegiatan serupa buat para siswa sebuah lembaga bimbingan belajr juga, yang mau melaksanakan SBMPTN, jaman saya namanya SNMPTN. Entah promosi atau emang banyak lembaga yang lagi butuhin ya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar